Selasa, 30 April 2013

MENEMANI ANAK - MENGAMATI LINGKUNGAN


Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Sebenarnya tulisan kali ini adalah untuk edisi 1 Mei 2013. Tetapi karena sudah terlanjur diterbitkan 30 April 2013, ya sudahlah. Yang penting, tulisan ini dapat menjadi bahan renungan kita bersama.

Foto-foto di atas dibuat oleh anak saya ketika dia masih di kelas III Sekolah Dasar.

Lalu, apa istimewanya siput di atas, sehingga difoto segala ?
Tidak ada yang istimewa ! Itu adalah siput biasa. Siput yang biasa kita lihat atau kita temui sehari-hari. Yang istimewa adalah ini : bagaimana kita selaku orang tua menemani anak, manakala anak mulai MEMPERHATIKAN apa yang ada di sekitarnya ATAS INISIATIFNYA SENDIRI, dan juga MENGGUNAKAN ALAT-ALAT yang ada di rumah guna mendukung KEINGINTAHUANNYA itu. Dalam hal ini : menggunakan kamera digital.

Tentu saja, anak memang perlu DIDAMPINGI menggunakan alat-alat seperti kamera digital ini. Tetapi, anak JANGAN DILARANG. Dalam berbagai kesempatan menjadi pembicara, saya menyampaikan hal ini berulang-ulang : lebih baik membeli kamera digital saku yang murah meriah tetapi BISA DIPAKAI MENEMANI ANAK MENGGUNAKAN KAMERA ITU, daripada membeli kamera digital yang mahal-mahal tetapi ANAK DILARANG MENGGUNAKANNYA KARENA TAKUT RUSAK. Kecuali, tentu saja, kalau orang tuanya adalah seorang fotografer profesional yang kameranya memang harus mahal-mahal karena untuk mencari nafkah. Dalam tulisan kali ini, konteksnya adalah : membeli kamera untuk hobi sekaligus sebagai alat untuk menemani anak "mengeksplorasi" alam sekitarnya. (Anak tidak hanya ditemani untuk MENGHAFAL PELAJARAN saja, tetapi juga ditemani untuk PEKA & BELAJAR LANGSUNG DARI ALAM).

Selanjutnya, marilah kita sebagai orang tua "mencari akal" bagaimana caranya supaya hasil eksplorasi / foto-foto buatan anak itu "ada ceritanya". Dalam contoh kali ini, ketika anak saya memotret siput, maka  "cerita" yang diangkat oleh saya dan istri saya adalah ini : bahwa ketika istri saya kuliah di Perikanan Undip tahun 1989-1994, skripsinya adalah tentang pembuatan pakan ikan dengan bahan baku tepung siput. Lalu, kami ceritakan betapa susahnya mencari siput dalam jumlah banyak. Juga betapa susahnya mengolah daging siput menjadi tepung siput, sebelum dibuat bentuk "pelet" (butiran) pakan ikan. Ditambah lagi, masih harus dicobakan kepada ikan dalam penelitian : dari pagi sampai malam sampai pagi lagi menunggui ikan-ikan memakan pelet / pakan ikan dari tepung siput ini, kemudian berat ikan-ikan itu ditimbang, kualitas airnya diukur dengan metode dan alat-alat yang secara ilmiah sudah diakui. Dan akhirnya, data-datanya ditulis sebagai skripsi dan diuji dalam ujian skripsi Sarjana Perikanan bidang Budidaya Perairan (Aquaculture).
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Tentu saja, cerita tadi hanyalah sekedar contoh. Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak pasti juga punya pengalaman-pengalaman hidup yang dapat dikait-kaitkan dengan apapun yang sedang "diminati" anak, sehingga anak memang merasa bahwa apa yang sedang diperhatikannya juga diminati oleh orang tuanya. Anak merasa DITEMANI oleh orang tuanya dalam mengembangkan pengetahuannya, bahkan merasa DIDUKUNG PENUH.
Selamat menemani anak.
Selamat menemani anak dalam mengembangkan minat, bakan, dan pengetahuan. Dari contoh  cerita di atas, anak juga mendapatkan wawasan bahwa ada PROSES PERJUANGAN yang harus dijalani oleh orang tuanya (kebetulan kuliah istri dan saya adalah sama, sama-sama di Perikanan Undip, sama-sama di bidang Aquaculture tapi beda topik penelitian), sehingga semua itu memang memberikan PENGALAMAN HIDUP yang nyata. Anak tahu bahwa TIDAK ADA YANG INSTAN.
"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"
-----o0o-----
Foto oleh Bernardine Agatha Adi Konstantia (saat itu, murid SD Pangudi Luhur Bernardus Semarang, saat tulisan ini dibuat : murid SMP Pangudi Luhur Domenico Savio).
Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.

BERSEKOLAH DAN TETAP MENGASAH KREATIVITAS & KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS

"MENYAMBUT HUT KE-1 BLOG HOLIPARENT, 8 MEI 2013"

Seperti biasa, setiap hari Minggu pagi saya selalu menyempatkan diri membaca Koran Sindo (dulu namanya : Koran Seputar Indonesia) yang setiap hari memang dikirim ke rumah saya. Yang selalu menjadi bacaan favorit saya (dan hanya ada di edisi Minggu) adalah kolom-nya Profesor Sarlito Wirawan Sarwono. Beliau adalah Guru Besar Fakultas Psikologi - Universitas Indonesia.

Tulisan-tulisan Profesor Sarlito Wirawan Sarwono selalu aktual dan mengandung ulasan dari segi "ilmu kejiwaan dan perilaku" alias psikologi. Nah, khusus untuk edisi hari Minggu tanggal 28 April 2013, saya secara khusus menampilkannya di sini (bukan bermaksud mempromosikan koran tertentu), sebagaimana yang dapat Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak lihat pada gambar di atas.

Intinya, Profesor Sarlito Wirawan Sarwono mengatakan bahwa memang sekolah itu penting, tetapi jangan lantas hanya fokus pada formalitas per-sekolah-an itu saja : yang penting naik kelas, yang penting dapat nilai bagus, yang penting lulus. Memang, naik kelas itu penting. Memang, mendapat nilai bagus itu penting. Memang, lulus itu penting. Tetapi, apakah "makna" yang terkandung di dalamnya memang benar-benar sudah dikuasai ? Dalam salah satu kegiatan di mana saya menjadi pembicara di sebuah sekolah, saya menceritakan bagaimana "kondisi kesadaran" yang diciptakan ketika saya bersekolah di SMA Kolese Loyola - Semarang : bahwa naik kelas itu memang penting, tetapi lebih penting lagi adalah KEJUJURAN dan KESADARAN DIRI. Dalam arti begini : menyontek itu adalah lebih memalukan daripada tidak naik kelas, karena naik kelas dengan cara yang tidak jujur (hasil menyontek) adalah sungguh-sungguh memalukan. Juga "kesadaran diri" ini : kalau memang aku belum layak naik kelas, ya memang lebih baik (meskipun menyedihkan) bahwa aku (kali ini) tidak naik kelas dulu, baru tahun depan aku naik kelas. Dan kenyataannya : teman-teman yang dulu saya tahu betul pernah tidak naik kelas tetapi memiliki KEJUJURAN dan KESADARAN DIRI seperti itu, pada saat sudah memasuki dunia kerja ternyata mereka ini menjadi PRIBADI YANG MATANG / DEWASA sehingga secara umum orang-orang menilai mereka sebagai pandai (termasuk : pandai secara akademis, karena mereka SADAR DIRI untuk selalu TEKUN BELAJAR secara RUTIN & DISIPLIN, bahkan ketika sudah bekerja).

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
   KREATIVITAS & KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS oleh Profesor Sarlito Wirawan Sarwono dikatakan lebih penting dibandingkan hanya sekedar mengejar formalitas sekolah. (Sekali lagi, saya tidak melihat bahwa beliau mengatakan bahwa sekolah itu tidak penting. Tidak. Saya melihat bahwa beliau menggarisbawahi bahwa jangan hanya mengejar formalitas per-sekolah-an saja, tetapi kuasailah konten / isi / makna-nya). Harus diakui bahwa di zaman yang serba instan ini, anak-anak tergoda / cenderung untuk dikejar-kejar supaya "yang penting hafal" dan "yang penting naik kelas / lulus". Saya melihat bahwa apabila anak memang memiliki minat dan bakat yang luar biasa, maka kecepatan belajar seperti itu baik-baik saja. Tetapi tidak semua anak seperti itu. Artinya, bagi anak-anak yang biasa-biasa saja, maka perlu didampingi oleh para orang tua dan gurunya untuk secara lebih rutin dan disiplin belajar sambil mengasah kreativitas & kemampuan berpikir kritisnya, dan bukan sekedar menghafal saja (apalagi malah dibela-belain mencari contekan / bocoran soal segala).

Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak untuk menguasai materi pelajaran sekolah dengan mengembangkan kreativias & kemampuan berpikir kritis.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.  

Senin, 29 April 2013

MENEMANI ANAK : "CITY TOUR" JALAN KAKI 2,5 JAM


"Mengapa tulisan di blog Holiparent banyak yang membahas tentang jalan-jalan di dalam kota saja ?" tanya seorang teman kepada saya.

"Karena murah dan meriah. Sehingga ide ini semoga bisa ditiru oleh banyak keluarga lainnya dengan mudah dan murah juga," kata saya. "Kalau saya menuliskan tentang jalan-jalan di luar negeri, 'kan tidak semua keluarga bisa jalan-jalan di luar negeri...". Kemudian (di dalam hati) saya juga menambahkan bahwa saya memang jarang sekali jalan-jalan ke luar negeri... He...he...he...

"Murah meriah dan bisa ditiru oleh banyak keluarga lain dengan murah meriah juga", itulah semangat yang sejak awal "berdirinya" blog pendidikan inspirasi kreatif ini sudah "dipegang erat-erat". Bahkan, dalam edisi-edisi awal hampir satu tahun yang lalu, blog Holiparent ini juga memberikan tips dan menunjukkan foto-foto hasil "jepretan" menggunakan Handphone "tidak ber-merk" yang murah meriah. Intinya, yang penting hati kita senang dan niat kita baik, yang murah meriah pun bisa membawa kesenangan, tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri. Sebab, Indonesia ini cantiknya luar biasa. Kota tempat tinggal kita pun cantiknya luar biasa. Tinggal bagaimana kita menikmati dan mengabadikannya dalam foto-foto yang mengesankan (kamera pinjam teman juga bisa dipakai, kamera HP-pun oke, untuk kali ini foto-foto dibuat dengan kamera saku Samsung ES95 seharga Rp 925.000, bukan dengan kamera DSLR yang harganya jutaan rupiah)
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Foto-foto kali ini dibuat sepanjang kami melakukan "City Tour" di kota tempat tinggal kami : Semarang. 


Hari itu adalah hari Minggu. Kami bertiga (anak, istri, saya) berangkat dari rumah sekitar pukul 07.00. Cuaca cerah. Dan kami bertiga berjalan kaki saja. (Nantinya terbukti bahwa perjalanan ini memakan waktu 2,5 jam. Ini sudah membuat kami senang dan kami memutuskan untuk kembali ke rumah. Padahal, belum semua pelosok kota Semarang kami jelajahi. Tetapi, yang penting hati sudah merasa senang, sekaligus sudah berolah raga murah meriah juga).

Ada banyak foto yang kami buat di Jembatan Banjir Kanal Barat yang baru selesai dan diresmikan pada tahun 2012. Kami menuruni anak tangga yang cukup tinggi dan berfoto-foto : di dekat sungai, di anak tangga, dan di dekat jembatan bagian atas (dekat jalan raya).

Sebenanrnya, setiap hari kami melewati jembatan ini minimal dari dua kali : Berangkat kerja / berangkat sekolah, pulang kerja / pulang sekolah. Tetapi ada sesuatu yang terlihat dan terasa sungguh berbeda ketika kami mendatangi jembatan ini dengan niat untuk menikmati keindahannya & berfoto-foto bersama. Artinya, niat apa yang sudah kita tanamkan di dalam hati & pikiran kita itu memang sangat besar pengaruhnya dalam melihat & menikmati sesuatu (benda / keadaan) !

Dengan kamera saku yang sederhana, saya mengabadikan anak dan istri saya di anak tangga Jembatan Banjir Kanal Barat di kota Semarang. "Serasa piknik di luar kota," kata anak dan istri saya. Padahal, kami hanya berfoto-foto di dalam kota di mana sehari-hari kami bertempat tinggal !

Kepada Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak yang akan melakukan "City Tour" murah meriah dengan jalan kaki seperti yang kami lakukan, saya menyarankan untuk membawa kamera dan memotret tempat-tempat yang dirasa indah untuk berfoto. Kamera (sekali lagi) tidak usah yang mahal-mahal. Kamera HP-pun oke.

Mungkin karena melihat keasyikan kami dalam berfoto-foto di Jembatan Banjir Kanal Barat, ada juga pejalan kaki (seorang anak usia SMP dan ibunya) yang kemudian juga berfoto-foto menggunakan kamera HP-nya. Pada mulanya mereka hanya lewat saja. Tetapi setelah melihat kami begitu sibuk berfoto-foto di jembatan (ha...ha...ha...) maka mereka berfoto-foto juga !


Kami melanjutkan perjalanan "City Tour" jalan kaki kami, dan membuat foto di banyak tempat. "Foto-foto seperti ini akan menjadi kenang-kenangan tentang kota Semarang...besok 50 tahun lagi...," kata saya kepada anak saya tentang salah satu "kegunaan" dari fotografi.

Saya ingat materi semasa kuliah S-1 Psikologi dulu : tergantung fokus kita akan kita arahkan melihat ke mana, mau melihat hal-hal yang indah-indah supaya hati ini ikut senang, atau melihat hal-hal yang tidak indah sehingga hati kita jadi sumpek. Saya memilih melihat hal yang indah-indah dalam hidup ini. Dengan melihat bunga-bunga yang mekar di seputar taman Tugu Muda misalnya, maka hati kita akan ikut menjadi senang. 
 
Berfoto di trotoir di sekitar bundaran Tugu Muda, ditemani bunga-bunga yang cantik bermekaran.

Berfoto di halte Angkutan Umum. 

Jalan-jalan sambil minum di sepanjang Jalan Pandanaran kota Semarang.

Berfoto di depan salah satu rumah makan yang berjualan Soto Ayam di kawasan Tri Lomba Juang kota Semarang.

Duduk di trotoir...melepas lelah sambil menunggu angkutan pulang ke rumah....

Sambil jalan-jalan dan berfoto ria, juga melihat tulisan di Jembatan Banjir Kanal Barat : selesai dibuat tahun 2012. 

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Selamat menemani anak.

Di hari Minggu atau hari libur lainnya, selamat mengajak dan menemani anak melakukan "City Tour" yang murah meriah dengan berjalan kaki (sekaligus olah raga) dan membuat foto-foto cantik (dengan kamera HP atau kamera saku, seadanya saja)....

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----o0o-----

Foto oleh Constantinus Johanna Joseph dan Susana Adi Astuti. 

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.

Minggu, 28 April 2013

ANYTHING BUT ORDINARY


Sabtu siang itu (27 April 2013) saya sedang jalan-jalan keliling kota sambil mencari makan siang, setelah saya selesai mengikuti acara yang menghadirkan banyak orang pintar secara akademis /pendidikan formal dan sekaligus terbukti nyata sukses menjalankan bisnis swasta.
Masih terpengaruh oleh semangat positif dari acara yang baru saja selesai saya ikuti, sambil makan siang di salah satu rumah makan di Jalan Pemuda di kota Semarang, saya ajak anak saya untuk melihat-lihat "bahwa rumah makan ini tidak sekedar menjual ayam goreng" tetapi dia "memasarkan" suasana yang khas. Di salah satu dinding rumah makan ini terpampang poster besar bertuliskan "ANYTHING BUT ORDINARY" dilengkapi gambar anak muda yang bisa menari dalam posisi "jungkir balik". Justru bukan gambar ayam goreng yang dipajang menyertai tulisan itu. Toh, nyatanya rumah makan ini selalui dipenuhi pembeli / pelanggan.
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Ide yang mau saya sharing-kan dalam blog inspirasi pendidikan kreatif kali ini adalah "perlunya anak ditemani untuk belajar dari pengalaman / apa yang ditemui sehari-hari", dalam contoh kali ini adalah tentang KONSEP MARKETING.
"Menampilkan sesuatu yang menarik" dan "memenuhi kebutuhan orang lain" adalah ide-ide dasar yang selalu menyemangati orang-orang marketing. Contohnya, gambar dan tulisan "anything but ordinary" yang saya sebutkan tadi. Ini menarik perhatian siapapun yang melihatnya. Dan tidak merugikan orang lain. Ini "tidak biasa-biasa saja", karena terlihat kreatif dan unik. Orang jadi senang melihatnya.
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Konsep marketing bagi saya (saya sudah menjadi salesman sejak usia 19 tahun, dan lulus Magister Marketing pada umur 30 tqhun atau 13 tahun sebelum tulisan ini saya buat sekarang) adalah tentang "peduli kepada orang lain" dan "tidak hanya mengutamakan / mementingkan diri sendiri". Itu sebabnya orang marketing itu "customer oriented" atau berorientasi pada (kebutuhan / keinginan) konsumen.
Nah, spirit marketing yang "peduli kepada orang lain" serta tidak "yang penting gue suka" inilah yang perlu kita kenalkan kepada anak-anak. Anak-anak juga ditemani untuk menghasilkan yang unik dan kreatif dengan "melihat dan membahas" apa saja yang unik dan kreatif "yang hadir di depan mata". Sehingga, belajar itu MENIKMATI KEADAAN, bukan sekedar menghafalkan.
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Dalam tulisan-tulisan sebelumnya di blog ini, saya sudah menceritakan betapa saya sudah berkali-kali menemui orang dewasa yang pandai secara akademis tetapi karena tidak punya konsep marketing dalam bekerja akhirnya "tidak punya teman" di tempat kerja dan karirnya pun tidak bagus (karena dia tidak menggunakan prinsip "customer oriented" yang merupakan hal mendasar dalam konsep marketing; dan hal ini berlaku untuk semua bidang kerja, bukan hanya untuk yang bekerja di bidang marketing saja).
Selamat menemani anak.
Semoga anak-anak kita jadi semakin peduli dan siap membantu orang lain, tidak asal "suka-suka gue".
"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"
-----o0o-----
Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.


Sabtu, 27 April 2013

MENEMANI ANAK "MENCINTAI INDONESIA"


Aku cinta petani Indonesia. Entah mengapa, senang rasanya bisa melihat tulisan ini terpampang di toko langganan saya. Memang, sudah sejak dulu saya selalu berpesan kepada keluarga, kalau membeli buah, kita beli saja buah "dalam negeri" saja. Kecuali, buah "dalam negeri" itu belum ada, barulah kita beli buah yang diimpor dari lua negeri.

Tidak dipungkiri, buah dari "dalam negeri" sedikit lebih mahal daripada buah yang diimpor dari luar negeri (untuk jenis buah yang sama, jeruk misalnya). Tetapi dalam hal ini saya justru jadi teringat tentang kisah bagaimana Toyoda membuat mobil Toyota yang "relatif lebih mahal" bahkan "relatif lebih ribet / sering perlu perbaikan" dibandingkan mobil "bukan Jepang", tetapi "orang Jepang" saat itu memang sangat antusias membeli dan memakai mobil Toyota, sehingga memang sejarah menunjukkan bahwa mobil buatan Jepang "merajari" otomotif dunia, karena bangsanya sendiri begitu suka memakai "mobil buatan dalam negeri".
(Dalam hal ini, saya sudah bilang kepada anak dan istri bahwa "kalau ada rejeki" untuk beli mobil baru, kami sekeluarga akan memilih membeli mobil "Esemka" atau semacamnya yang "buatan dalam negeri". Tentu saja, kami juga memakai mobil merek lain, karena sudah dirakit di "dalam negeri", tetapi mengombinasikannya dengan mobil "Esemka" adalah suatu pemikiran yang patut diwujudkan).


"Bagaimana jalan-jalan ke luar negerinya ?" tanya beberapa teman dalam berbagai kesempatan kepada saya, ketika tahu saya baru saja menemani beberapa karyawan sebuah perusahaan "piknik" ke luar negeri.

"Masih lebih bagus Indonesia," jawab saya. 

Tentu saja, jawaban ini cukup mengagetkan beberapa teman yang mengajukan pertanyaan, karena jawaban yang saya berikan ternyata masih juga "mengandung komparasi / perbandingan" dengan keindahan Indonesia.

"Pantainya, lebih cantik pantai-pantai di Indonesia. Candinya, lebih bagus dan megah candi-candi di Indonesia. Tetapi saya memang kagum dengan mereka (bangsa itu), karena mereka begitu pandai mempromosikan apa yang mereka punya, sehingga orang dari negara-negara lain berduyun-duyun datang untuk berwisata ke negeri mereka," kata saya. 

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Tentu saja, kita juga boleh / perlu untuk membeli buah dan sayuran yang diimpor dari luar negeri. Kita juga boleh / perlu (kalau memang ada uang dan ada kesempatan) untuk piknik ke luar negeri. Tetapi pada kesempatan ini marilah kita renungkan bersama : apakah "milik" Indonesia juga sebenarnya sudah ada, dan kalau begitu, kenapa kita tidak (mengombinasikannya) dengan membeli / menikmati yang "dari" Indonesia ? Artinya, jangan karena semata-mata gengsi maka kita memilih / membeli / menggunakan "yang penting buatan luar negeri". Tetapi kalau memang yang luar negeri itu "lebih bagus", memang perlu "kita pakai" guna membangun / mengembangkan Indonesia. Sekolah / kuliah di luar negeri, misalnya. Saya mendukung para orang tua yang menyekolahkan anaknya di luar negeri, dengan semangat bahwa mencari ilmu sampai ke manca negara itu memang dalam rangka memajukan Indonesia. Demikian juga halnya bekerja di luar negeri.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
 Selamat menemani anak untuk mencintai bangsa dan negara kita secara nyata & dengan cara yang biasa-biasa saja.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Tulisan dan foto oleh Constantinus Johanna Joseph. Alumnus Latihan Kepemimpinan Pemuda Tingkat Nasional oleh Menpora RI Angkatan XXII / Cibubur - Jakarta. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. 

Kamis, 25 April 2013

MENEMANI ANAK MEMASUKI DUNIA KERJA


Suster Dra. Lidwiana, CB (Kepala SMK Pius X Magelang) sedang memberikan pengarahan sekaligus membuka acara workshop "Memasuki dan Beradaptasi di Dunia Kerja"

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Kali ini saya akan men-sharing-kan pengalaman tentang menemani anak dalam "mengasah" pengetahuan dan ketrampilan, sekaligus mendampingi dan menyiapkan mereka "memasuki sekaligus beradaptasi / bertahan" di dunia kerja (karena pada hakekatnya semua anak yang kita dampingi akhirnya akan memasuki dunia kerja, jadi itu merupakan tanggung jawab kita sebagai "orang tua").

Bu Anjar, Guru SMK Pius X Magelang. Beliau adalah Asesor Uji Kompetensi - Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pariwisata yang diakui oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Republik Indonesia.
SMK Pius X Magelang sendiri merupakan Tempat Uji Kompetensi (TUK) - LSP Pariwisata - BNSP RI.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.
Ini adalah cerita tentang SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Pius X yang ada di kota Magelang. SMK yang mendidik para siswa dan siswinya di bidang tata boga (makanan) dan tata busana (pakaian) ini memang sudah terkenal kualitasnya, yang setidaknya dapat dilihat dari 3 hal ini : (1) Memiliki akreditasi A, (2) Menjadi Tempat Uji Kompetensi (TUK) sesuai standar dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Republik Indonesia - LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) Pariwisata, serta (3) Lulusannya selalu "dipesan" untuk bekerja di berbagai perusahaan swasta maupun instansi pemerintah (termasuk Kedutaan Besar Republik Indonesia di setidaknya 12 negara).

Pak Par, Guru SMK Pius X Magelang

Berinteraksi dengan SMK Pius X Magelang (saya menjadi pendamping bagi para siswa-siswi kelas XII yang akan memasuki & beradaptasi / bertahan di dunia kerja dengan memberikan pelatihan / workshop), membuka mata dan pikiran saya bahwa anak memang perlu ditemani / didampingi dalam berbagai kesempatan secara menyeluruh : di rumah, di sekolah, di masyarakat (persiapan memasuki dunia kerja).

Secara khusus saya sungguh salut kepada para Suster dan Guru di SMK Pius X Magelang, yang ternyata (ini yang di luar dugaan saya) selain mengajar di sekolah (baik teori maupun praktek) juga melakukan kunjungan-kunjungan sampai ke luar kota demi memantau sekaligus mendampingi / menemani anak didiknya yang baru lulus dan sudah bekerja namun kebetulan sakit di tempat kerjanya, maupun mengunjungi murid yang sedang "praktek industri" di perusahaan namun ternyata jarang berangkat praktek kerja (murid tersebut dikunjungi di rumahnya). Dan, kunjungan-kunjungan seperti ini dilakukan di luar jam mengajar. Artinya, para pendidik ini sungguh-sungguh meluangkan waktu guna menemani / mendampingi anak didiknya.

165 orang siswa dan siswi SMK Pius X Magelang kelas XII sedang mengikuti acara pembukaan workshop "Memasuki dan Beradaptasi di Dunia Kerja"

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Seperti biasa, saya tidak bermaksud mempromosikan apapun dalam blog inspirasi pendidikan kreatif ini. Tetapi memang ada hal yang layak kita renungkan dan kita teladani dari cerita yang saya sharing-kan di atas : menemani / mendampingi anak itu berarti harus meluangkan waktu dan harus dilakukan secara berkesinambungan / menyeluruh baik di rumah maupun di sekolah / masyarakat.

Ini membuat kita layak untuk merenung : apakah sebagai orang tua, kita juga sudah menjalin komunikasi yang baik dengan para guru anak kita di sekolah, sehingga semua norma yang diajarkan di sekolah memang "nyambung" / sesuai dengan norma yang kita ajarkan / kita contohkan di rumah. Dengan demikian, anak dapat tumbuh dan berkembang dalam keselarasan / harmoni, dan bukannya mengalami kebingungan / konflik karena norma yang diajarkan di sekolah ternyata tidak sesuai bahkan bertentangan dengan norma yang diajarkan / dicontohkan orang tuanya di rumah. 

Tampak di atas : sebagian peserta yang berasal dari Jurusan Tata Boga maupun Tata Busana - SMK Pius X Magelang kelas XII

Bersiap diri memasuki dan beradaptasi di dunia kerja. Siswa-siswi SMK Pius X Magelang berasal dari Jawa maupun luar Jawa. Prinsipnya, Bhinneka Tunggal Ika.

Pakaian merupakan hal yang sangat diperhatikan di SMK Pius X Magelang. Sebagai sekolah yang dikelola / dipimpin oleh para Suster, sopan santun berpakaian diatur dengan tegas dan jelas. Untuk murid perempuan, rok harus di bawah lutut. Kesan ke-seksi-an memang ditiadakan. Ini merupakan bagian dari pembentukan karakter yang disiplin dan penuh susila, dalam rangka pembinaan sumber daya manusia yang tangguh dan profesional.

Bersiap diri memasuki dan beradaptasi di dunia kerja. Lulusan SMK Pius X Magelang (milik Yayasan Tarakanita) Jurusan Tata Boga dan Tata Busana banyak "dipesan" oleh berbagai perusahaan maupun instansi, bahkan sejak mereka masih duduk di kelas XI. Tercatat ada sekitar 12 (dua belas) Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia yang selama ini memesan para lulusan SMK Pius X Magelang untuk bekerja di Kantor KBRI di luar negeri.


Mendidik sikap dan perilaku yang dewasa. Para Guru memberikan pendampingan bukan hanya di sekolah, tetapi juga mengunjungi murid / mantan murid yang sakit di tempat kerjanya (di luar kota) maupun mengunjungi rumah murid yang tidak masuk "kerja praktek" di perusahaan. Artinya, Guru tidak hanya mendampingi di dalam kelas / di sekolah saja, tetapi juga sampai ke lingkungan keluarga dan perusahaan / masyarakat.

Selamat menemani anak.

Selamat menjalin komunikasi yang baik dengan para guru anak kita di sekolah.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Kehidupan Bangsa"

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.

Minggu, 21 April 2013

SELAMAT HARI KARTINI 2013


Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Tidak dapat dipungkiri bahwa seluruh Bangsa Indonesia pada hari ini, 21 April, pasti merayakan Hari Kartini.

Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak kita semua merenung : seberapa kuatkah kita sudah "mengaitkan" nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh Raden Ajeng Kartini dengan kehidupan sehari-hari, utamanya dalam kaitannya dengan kegiatan kita untuk menemani / mendampingi anak-anak kita.

Kebetulan, anak saya semata wayang adalah seorang perempuan. Tetapi pada dasarnya saya percaya bahwa kalaupun Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak hanya mempunyai anak laki-laki saja, tetaplah relevan untuk "mengajarkan" nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh Raden Ajeng Kartini.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Sejarah telah menunjukkan bahwa Raden Ajeng Kartini telah mendobrak tradisi lama, sehingga muncullah apa yang kemudian disebut dengan "Habis Gelap Terbitlah Terang" sebagaimana judul yang diberikan pada buku yang berisi kumpulan tulisan / pemikirannya.

Jadi, apakah "Habis Gelap Terbitlah Terang" itu hanya relevan untuk kaum wanita saja, ataukah untuk pria maupun wanita Indonesia saat ini ?

Jujur saja, dengan sekian banyak permasalahan yang masih dihadapi oleh Bangsa Indonesia saat ini (tidak pandang pria maupun wanita), maka perjuangan Raden Ajeng Kartini untuk mewujudkan "Habis Gelap Terbitlah Terang" masih RELEVAN untuk TERUS KITA PERJUANGKAN di masa sekarang ini.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Tentu saja ketika kita sebagai orang tua mencoba "mengaitkan" nilai luhur perjuangan Raden Ajeng Kartini dengan KEADAAN BANGSA INDONESIA sekarang ini, kita harus memperhatikan umur anak kita dan memilih-milih kata yang kita gunakan. Tetapi intinya tetap sama : PERJUANGAN masih harus dilanjutkan karena HABIS GELAP TERBITLAH TERANG itu memang masih dalam proses.

Kepada anak (misalnya) dapat kita ajak merenung : kalau anak kita belajar keras, itu bukan semata-mata untuk menjadi juara kelas / menjadi pandai, tetapi untuk membuat bangsa ini maju. Seperti perjuangan Raden Ajeng Kartini yang bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk seluruh bangsanya.

Hal yang lain : Raden Ajeng Kartini tidak ragu untuk BERKORESPONDENSI dengan temannya di luar negeri guna membahas hal-hal yang PERLU UNTUK MEMAJUKAN BANGSANYA. Sekarang, anak-anak kita memang sudah tidak berkirim surat seperti zaman Raden Ajeng Kartini : sekarang sudah diganti dengan BBM atau FB atau Twitter. Masalahnya : apakah BBM atau FB atau Twitter ini juga sudah "MENIRU" apa yang dilakukan Raden Ajeng Kartini dulu, yaitu membahas hal-hal untuk memajukan bangsa, ataukah anak-anak kitq justru "kualitas pembicaraannya" di dalam BBM atau FB atau Twitter justru hanya "ber-ha-ha-hi-hi" atau sekedar "iseng-iseng" saja ?

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Memang kita tidak berharap bahwa anak kita jadi "aneh" di antara teman-temannya karena "sok serius" atau "sok idealis". Cukuplah kiranya kalau dalam ber-BBM ria atau ber-FB ria atau ber-Twitter ria itu anak-anak membahas pelajaran sekolah atau membuat program / kegiatan bersama yang positif di sekolah. Jangan sampai malah teknologi itu dipakai untuk saling bertukar foto atau video porno atau yang sejenisnya (apalagi : malah bikin foto atau video porno).

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Kalau dipikir-pikir, menemani anak untuk meneladan / meneruskan nilai-nilai luhur Raden Ajeng Kartini itu sebenarnya sederhana saja. Kalau misalnya ada guru di sekolah yang ulang tahun, makq anak-anak (para murid) mengucapkan Selamat Ulang Tahun dan berfoto bersama. Foto-foto ini kemudian di-share di Group BB atau di FB, supaya RASA SYUKUR ini bisa jadi KENANGAN INDAH BERSAMA. Dengan demikian, anak memang berlatih untuk MEMIKIRKAN orang lain supaya bisa GEMBIRA, dan itu bisa dinikmati BERSAMA-SAMA, tidak EGOIS.

Semoga dengan demikian, kelak ketika sudah dewasa, anak juga memang sudah terbiada untuk MEMIKIRKAN KEBAHAGIAAN ORANG LAIN, dan setiap langkahnya memang selalu dilandasi oleh prinsip ini.

Jayalah Indonesia !
Selamat Hari Kartini !
Habis Gelap Terbitlah Terang !

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----21 April 2013-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Alumnus Latihan Kepemimpinan Pemuda Tingkat Nasional Angkatan XXII / Cibubur -Jakarta 1990. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia.

Sabtu, 20 April 2013

MENJADI REPORTER / CAMERAMAN UNTUK "CERITA" KEPADA ANAK


Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Salah satu hal yang membuat saya sedih adalah ketika saya "harus" jalan-jalan tanpa didampingi anak dan istri. Rasanya, saya ingin berkata, "Ngapain bisa jalan-jalan, kalau tidak dengan anak dan istri".

Memang, adakalanya kita menemui tugas yang aneh. Contohnya, ya seperti yang saya katakan tadi : saya ada tugas menemani beberapa karyawan sebuah perusahaan sampai ke luar negeri, tetapi anak dan istri memang tidak bisa saya ajak (namanya juga tugas / kerja !). Terlebih lagi, anak dan istri saya belum pernah saya ajak jalan-jalan ke tempat itu.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Dalam kondisi seperti ini, apa yang bisa saya lakukan adalah "membawa oleh-oleh pengetahuan", sehingga sekalipun anak dan istri tidak ikut jalan-jalan, tetapi pada saat pulang kita bisa "bercerita" tentang "hal-hal unik" apa yang ada di tempat itu.

Caranya sederhana saja. Saya menggunakan handycam / camcoder merk Samsung dengan harga Rp 1.950.000,- (untuk handycam / camcoder, ini adalah harga yang murah meriah) untuk MEREKAM APA SAJA yang nantinya akan saya gunakan sebagai BAHAN CERITA kepada anak dan istri di rumah. Jadi, memang di dalam hati ini saya tidak BERNIAT PIKNIK / JALAN-JALAN seorang diri, tetapi memang sudah menanamkan niat di dalam hati bahwa saya adalah seorang REPORTER / CAMERAMAN yang membuat film dokumenter untuk anak dan istri. Jujur saja, dengan cara ini "rasa bersalah" saya karena tidak bisa jalan-jalan bersama anak dan istri bisa terkurangi.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
VIDEO yang saya buat dalam tugas "jalan-jalan" seperti itu memang bisa dijadikan bahan cerita sambil ditonton bersama. Contohnya, seperti video pada contoh di bawah ini (dalam tugas "jalan-jalan menemani karyawan");  tetapi mohon maaf bahwa sepertinya hanya dapat dilihat dengan Notebook / Laptop / Personal Computer. Semoga Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth berkenan memaafkan saya tentang hal ini.



Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Demikianlah sekedar "sharing" kali ini : tentang mengurangi rasa bersalah ketika terpaksa jalan-jalan tanpa bisa mengajak anak dan istri turut serta (sebab memang secara teknis dan etik tidak dimungkinkan). Caranya yaitu dengan menanamkan niat di dalam hati untuk menjadi REPORTER / CAMERAMAN bagi anak dan istri di rumah. Dengan demikian, anak dan istri juga bisa ikut menikmati kisah perjalanan itu, bahkan menambah pengetahuan juga.

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----20 April 2013-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia.

Jumat, 19 April 2013

BERJUANG UNTUK "AJEG" & MENGATASI BANYAK ALASAN

Majalah Jurnalistik "Fresh !" SMP Domenico Savio - Edisi ke-2

Bukan hanya anak-anak, kita para orang tua juga ada kecenderungan "tergoda" untuk menggebu-gebu ketika memulai sesuatu, tetapi kemudian jadi bosan dan akhirnya "padam"....

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Tidak terasa sekarang ini sudah bulan April 2013. Ini berarti Blog Holiparent ini sudah hampir berumur 1 tahun. Tentu saja, dengan segala liku-likunya : sering tidak terbit karena berbagai alasan, sampai beberapa edisi yang karena ada "trouble teknis" yang menyebabkan edisi tertentu hanya dapat dibuka dengan Personal Computer / Notebook (tetapi tidak bisa dibuka dengan Smartphone / BB / Tablet). Saya sungguh-sungguh bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth., yang sudah menjadi pembaca setia Blog Pendidikan ini (yang seharusnya terbit setiap hari). Sungguh, saya begitu berterima kasih bahwa Blog Pendidikan ini sudah dibaca hampir 15.000 kali... Dulu, ketika baru dibaca 100 kali saja, saya sudah senang bukan main...

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Ngomong-ngomong tentang "keajegan" dalam melanjutkan apa yang sudah dimulai, saya jadi ingat anak saya yang di bulan Februari 2013 yang lalu menerbitkan Majalah Jurnalistik di sekolahnya, bersama teman-temannya. Semangat mereka menggebu-gebu. Dan senangnya bukan main waktu Majalah Jurnalistik SMP Domenico Savio Semarang ini terbit perdana. Ditambah lagi tanggapan para pembaca (guru dan teman-teman sekolah), membuat kegembiraan dan semangat mereka semakin meluap-luap.

Saya ketika itu justru berpesan, bahwa semua semangat itu jangan dihabiskan begitu saja untuk menggarap edisi perdana. Masih ada edisi-edisi berikutnya yang harus diterbitkan setiap bulannya. Masih selalu perlu ide-ide baru supaya Majalah Jurnalistik yang diberi nama "Fresh !" ini benar-bemar "fresh" setiap bulannya dibaca semua guru dan murid di sekolah itu. Ibarat lari, ini adalah lari marathon yang perlu mengatur strategi dan stamina. Terutama, MENGATASI RASA BOSAN.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Saya tidak menuduh bahwa semua orang adalab pem-bosan alias orang yang mudah bosan. Tidak. Tetapi memang kalau kita lihat, biasanya untuk MEMULAI sesuatu itu, entah membuat Majalah Jurnalistik, entah membuat Blog Pendidikan, adalah jauh LEBIH MUDAH & LEBIH BERSEMANGAT daripada tetap MENERUSKANNYA SECARA RUTIN. Biasanya, rasa bosan itu muncul dengan berbagai macam kedok / alasan. Yang paling umum adalah : sibuk.

Saya sendiri mengakui bahwa kesibukan memang yang membuat Blog Holiparent ini beberapa kali tidak terbit setiap hari. Tetapi saya sadar bahwa ITU TETAPLAH ALASAN SAJA. Perlu tekad yang kuat dan kesadaran yang penuh untuk KEMBALI BANGKIT : kalaupun memang sibuk, ya harus DILUANGKAN di sela-sela waktu sibuk itu untuk tetap MENERUSKAN apa yang sudah DIMULAI.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Saya mengawali menulis blog edisi kali ini sekitar pk. 17.30, di dalam mobil, sambil menunggu istri pulang kantor (kebetulan hari ini saya menjemput istri pulang kantor). Dan, baru saya lanjutkan / saya selesaikan sekitar pk 20.30 di salah satu rumah makan sambil saya makan malam dengan istri (karena saya tidak mungkin nge-blog sambil nyetir mobil; istri saya biasa tidak mau nyetir mobil kalau ada saya).

Ini adalah PERJUANGAN bagi saya untuk tetap menulis blog secara AJEG. Dan...tidak menggunakan alasan ini itu.

Semoga dengan demimian, kita pun dapat menemani dan memberi contoh kepada anak kita untuk selalu AJEG meneruskan apa yang sudah dimulai, dan tidak terjebak pada RASA BOSAN ataupun BANYAK ALASAN.

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----19 April 2013-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia.

Kamis, 18 April 2013

BELAJAR DARI & DALAM PROSES

Orang tua memiliki banyak kesempatan untuk menemani anak supaya anak selalu belajar dari dan dalam proses. Ketika ada kesempatan jalan-jalan bersama anak di pantai / laut misalnya, anak ditemani oleh orang tuanya untuk MENGAMATI & MENIKMATI proses-proses apa saja yang ada di lingkungan pantai / laut. Dengan demikian, anak terbiasa untuk SECARA DITAIL  belajar dalam PROSES, tidak serba instan.


Waktu saya menulis blog ini, hujan lebat sedang mengguyur bumi. Jam (di smartphone) menunjukkan pukul 20.00 Waktu Indonesia Barat. Hujan sudah turun sejak pukul 16.00 tadi. Sudah empat jam, dan belum reda juga.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Saya hampir saja terlena untuk menulis cerpen (cerita pendek) dengan kalimat pembuka di atas. Memang, semasa masih SMP sampai SMA, saya adalah penulis cerpen. Juga artikel ilmiah populer. Tetapi tulisan saya yang pertama baru dimuat ketika saya kelas III SMA. Dimuat di surat kabar Jawa Tengah. Wah, senangnya bukan main. Padahal, kalau dihitung-hitung, sudah sejak enam tahun sebelumnya saya mengirim tulisan ke surat kabar. Baru setelah enam tahun proses yang panjang dan tidak terhitung banyaknya tulisan yang sudah saya kirim, akhirnya ada juga SATU tulisan yang dimuat !

Memang, setelah itu tulisan demi tulisan saya dimuat di berbagai surat kabar, tabloid, dan majalah. Meskipun, ada yang harus disertai dengan PRESENTASI di hadapan dewan redaksi salah satu media massa di Jakarta. Waktu itu umur saya 29 tahun. (Sekarang umur saya 43 tahun. Artinya, itu sudah 14 tahun yang lalu).

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Pengalaman berjuang untuk me jadi penulis ini berkali-kali saya ceritakan kepada anak saya. Juga kepada banyak orang yang lai . Intinya sederhana saja : tidak ada yang instan. Semua itu perlu proses, perlu waktu, perlu perjuangan dan doa.

Saya juga selalu mengatakan, beberapa orang ada yang memerlukan waktu kurang dari enam tahun ketika tulisan-tulisannya sudah dimuat di media massa. Beberapa orang yang lain perlu waktu lebih dari enam tahun. Semua itu adalah proses. TIDAK PERLU IRI. TIDAK PERLU MINDER / RENDAH DIRI.

Yang penting sebenarnya bukan waktu enam tahun, atau tujuh tahun, atau delapan tahunnya. Tetapi MENJALANI PROSES, BELAJAR DARI & DALAM PROSES, itulah esensinya. Di sini terkandung keteguhan, ketekunan, kesabaran, hasrat, cinta dan kesabaran.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Anak memang perlu kita beri cerita, perlu kita beri contoh, tentang nilai-nilai keteguhan, ketangguhan dan sebagainya tadi. Semoga dengan demikian, anak kita jadi lebih siap memasuki dunia kerja di saat dia dewasa kelak. Sebab sebagai seorang praktisi psikologi industri dan komunikasi di perusahaan-perusahaan, saya sudah membuktikan secara empiris / berdasarkan pengalaman bahwa kesuksesan orang bekerja tidak dapat lepas dari KESUNGGUHANNYA BELAJAR DARI & DALAM PROSES yang memerlukan WAKTU dan juga KESUNGGUHAN / KETABAHAN dan sebagainya tadi.

Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak untuk BELAJAR DARI & DALAM PROSES.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----18 April 2013-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Il.uwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia.

Rabu, 17 April 2013

MENGENALKAN "REALITA ORANG" KEPADA ANAK

Ibarat cabai, meskipun sama-sama cabai, tetap saja ada variasinya : warnanya, ukurannya, rasa pedasnya. Ada baiknya orang tua menemani anak dalam hal ini : bahwa orang itu bermacam-macam, tidak semuanya baik, juga tidak semuanya jelek; dan tidak ada yang 100% baik pula tidak ada yang 100% jelek. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Dengan demikian, anak sudah belajar tentang "bagaimana" menghadapi realita bahwa orang itu memang bermacam-macam.


Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Malu rasanya, sudah hampir sebulan saya tidak men-sharing-kan apapun dalam blog inspirasi pendidikan kreatif ini. Ada sekian banyak alasan, tetapi alasan tetaplah alasan. Jadi, tidak layak saya uraikan di sini.

Hari-hari dalam satu bulan terakhir ini saya beberapa kali ngobrol ringan dengan anak saya semata wayang yang duduk di kelas VIII (SMP Kelas II). Intinya, saya sedang ada kasus yang harus ditangani di tempat kerja. Ada dua orang pimpinan perusahaan yang bersekongkol sehingga membuat perusahaan dalam kondisi bahaya : bisa rugi, bisa tutup karena bangkrut.

Tentu saja, saya mengemas cerita saya secara garis besar saja, yang penting anak saya tahu bahwa perbuatan kedua orang pimpinan ini adalah TIDAK BENAR baik secara manajemen maupun secara hukum. Akibatnya, kedua orang pimpinan ini harus dicopot dari jabatannya. Padahal, kedua orang pimpinan perusahaan ini sudah menutupi perbuatannya sedemikian rupa, namun akhirnya ketahuan juga.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Ada kalanya kita perlu menceritakan kepada anak kita (sesuai umur mereka) bahwa memang ada orang yang berbuat CURANG. Dan bahwa kita memang harus TEGAS bertindak menghadapi orang yang seperti itu. Perlu juga dijelaskan bahwa ketika ketahuan, orang seperti itu pasti punya ALASAN PEMBENAR, tetapi kita harus tetap teguh untuk MENGUNGKAP supaya kebenaran itu dapat menjadi jelas.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Selain itu, kita juga harus menjelaskan kepada anak kita bahwa apa yang kita lakukan TIDAK DIDASARKAN PADA RASA BENCI kepada orang yang curang seperti itu, tetapi justru kita MENGASIHI orang itu; karena yang kita benci adalah PERBUATAN CURANGNYA, bukan orangnya. Supaya anak tidak bingung, kita jelaskan bahwa : kecurangan orang itu kita ungkap, orang itu harus menerima hukuman atas kecurangannya, tetapi apabila orang itu juga ada perbuatan baik atau dia sudah insaf, maka dia kita beri kesempatan untuk memperbaiki diri (meskipun bukan berarti dia boleh menjadi pimpinan lagi di perusahaan itu). Bisa jadi, dia tetap bekerja di perusahaan yang sama, tetapi menjadi anak buah, bukan pimpinan lagi. Atau bisa jadi dia bekerja di perusahaan lain. Kita tidak boleh selalu menceritakan kejelekannya saja. Kalau dia punya kebaikan, harus kita katakan juga secara jujur.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Tulisan kali ini mungkin terkesan agak muram. Memang, apa yang saya sharingkan di atas adalah kenyataan yang sedang saya alami. Bahwa kedua orang pimpinan yang bersekongkol untuk berbuat curang itu salah satunya adalah mantan anak buah saya sekitar 7 (tujuh) tahun yang lalu. Tetapi waktu berlalu, dan orang bisa berubah. Dan mantan anak buah saya itu entah bagaimana pergaulannya akhir-akhir ini, ternyata bisa sedemikian curang. Dan, saya memang memberikan penilaian yang "fair" : bahwa dia salah, bahwa dia harus menanggung hukumannya.

Semoga dengan demikian anak kita menjadi lebih dewasa dalam menilai orang lain : bahwa tidak semua orang jelek, dan bahwa tidak semua orang baik.

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----17 April 2013-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia.