Rabu, 22 Agustus 2012

MENJADI TUKANG SEKALIGUS MENGAJARKAN KEPADA ANAK "PRINSIP-PRINSIP TEKNIS"



Satu hari menjelang Lebaran tahun ini, ternyata dua buah kran air di rumah rusak. Pertama, kran air di kamar mandi luar tidak bisa “ditutup”. Kedua, kran air di tempat cuci piring tidak bisa dibuka.

Padahal, di hari-hari seperti ini, mencari tukang pipa sudah sulit. Sudah pada pulang kampung.

Pada mulanya, kerusakan ini tidak dilihat sebagai masalah. Tetapi setelah rusak selama tiga hari, hal ini terasa mulai semakin mengganggu : mengangkut air dari satu tempat ke tempat lain ----- meskipun masih dalam satu rumah ----- menggunakan ember jelas tidak praktis.

(Kondisinya begini : karena kran air di kamar mandi luar rusak / tidak dapat "ditutup", air mengalir terus lewat kran ini. Sementara itu, air tidak dapat mengalir lewat kran lain ----- di kamar mandi dalam ----- karena letak kran di sini lebih tinggi. Itu sebabnya jadi ada kegiatan baru kalau kran air yang rusak tidak segera diganti / diperbaiki : yaitu mengangkut air memakai ember dari kamar mandi luar ke kamar mandi dalam. Selain itu, juga harus mengangkut air dari kamar mandi luar ke tempat cuci piring).

Maka diambil keputusan : kran-kran air yang rusak harus segera diganti.

----------
 
Memperbaiki kran air sebenarnya sederhana saja : cuma beli kran baru, lalu dipasang menggantikan kran lama (yang rusak). Gampang.

Tapi, itu 'kan konsepnya ! Itu 'kan cuma teori !

----------
 
Nah, kesempatan darurat seperti ini juga dapat dijadikan momen yang tepat untuk mengajarkan kepada anak bahwa konsep dan teori tentang mengganti kran air memang perlu. Tetapi itu saja belum cukup. Orang juga harus menguasai teknis dan penerapannya supaya kran air itu benar-benar bisa berjalan normal (= diganti baru).

----------

Nilai-nilai (value) yang terkandung dalam kegiatan (sederhana) seperti memperbaiki / mengganti kran air ini dituliskan di sini, dengan maksud agar kita semua sebagai orang tua dapat menemani dan mengarahkan anak dengan benar : bukan hanya selalu berpikir sampai pada konsep dan teori saja, tetapi harus bisa / berani bertindak secara teknis.  

Ini didasarkan pada pengalaman nyata dalam pekerjaan sehari-hari di berbagai perusahaan. Sebagai seorang Praktisi Psikologi Industri dan Ilmuwan Psikologi, saya melihat kenyataan selama bertahun-tahun bahwa ada banyak orang yang pandai tetapi ke-pandai-an itu baru sebatas pada konsep dan teori semata. Akibatnya, mereka ini hanya pandai berteori tetapi tidak bisa bertindak dalam menyelesaikan masalah, baik dengan tangannya sendiri / secara langsung maupun lewat tangan orang lain. Sebab, kalau mengerjakan sendiri memang tidak bisa. Tetapi kalau dengan perantaraan tangan orang lain, maka arahan-arahan yang diberikan tidak bisa diterapkan karena dia memang tidak menguasai teknis / aplikasinya.

Saya tidak boleh mem-vonis bahwa masa kecil mereka itu pasti tidak pernah didampingi orang tuanya untuk berpikir tidak hanya teori / konsep tetapi seharusnya juga yang sifatnya teknis / bisa diterapkan langsung. Tetapi kalau kita melihat bahwa kehidupan itu adalah suatu kontinum, maka masa kecil / kanak-kanak juga mewarnai bagaimana orang kelak ketika menjadi dewasa.

--------------------

Saya melihat dulu, apa yang rusak dengan kran di kamar mandi luar  dan kran di tempat cuci piring. Untuk bisa tahu itu, saya harus melepas kran di kamar mandi luar dan kran di tempat cuci piring.

Nah, untuk melepas / membuka kran itu saja sudah ada masalah teknis / terapan yang harus dipecahkan : pakai alat apa ?

Kalau dengan tangan kosong / tanpa alat,  jelas tidak mungkin / tidak kuat. Kalau dengan kunci pas, saya tidak punya. Kalau dicoba dengan tang, ternyata tang-nya kurang besar. Harusnya memang pakai "Kunci Inggris". Tetapi, saya tidak punya.


Akhirnya, saya ke supermarket di dekat rumah, yang kebetulan sudah buka. Kebetulan juga, di situ dijual kran air dan juga "kunci Inggris". Jadi, saya beli saja.

----------

Akhirnya kran air yang lama / rusak bisa dilepas, diganti dengan kran air yang baru.

Nah, kran air yang lama / rusak itu tidak saya buang. Tetapi saya gunakan sebaga alat peraga pelajaran Fisika untuk anak saya.

Pertama, mengetahui penyebab kran itu tidak bisa "ditutup". Ternyata, pada bagian dalam kran itu ada semacam "bola logam berlubang" yang seharusnya bisa berputar (dikendalikan oleh "handle" / "pegangan kran". "Bola logam berlubang" ini dihubungkan dengan "handle" / "pegangan" dengan cara "di-las". 


Pada kran air di kamar mandi luar, karena sudah dipakai bertahum-tahun (lebih dari 5 tahun), maka "las" ini jadi karatan (terus- menerus terkena air yang ada di dalam kran) dan akhirnya berkarat. 


Akibat akhirnya, "las" ini putus, dan "bola logam berlubang" tidak bisa digerak-gerakkan menggunakan "handle" / "pegangan". 

Pada kran air di tempat cuci piring, “handle” / “pegangan” ini karena aus sudah tidak bisa diputar secara maksimal, sehingga lubang pipa “tidak bisa terbuka”.

Kedua, mengetahui bahwa alat itu bisa rusak karena karat (pada kran air di kamar mandi luar) dan karena sudah aus karena dipakai sekian tahun lamanya (pada kran air di tempat cuci piring).

Anak diberitahu dengan contoh nyata ini bahwa proses ber-karat itu sendiri merupakan proses kimia. Anak juga diberitahu bahwa sekarang ini banyak dijual kran air terbuat dari plastik (dulu, semua kran air terbuat dari logam). Memang, plastik terkesan tidak sekuat logam. Tetapi, barangkali kran plastik lebih awet dibandingkan kran air dari logam karena kran plastik tidak terkena proses "karatan"  (yang menyebabkan kran tidak dapat "dibuka-tutup" dengan normal). (Hanya saja, dalam membeli kran air yang baru, saya akhirnya tetap memilih kran air dari logam lagi, karena kran air dari plastik warnanya terlalu mencolok : hijau dan merah jambu. Di sini, anak juga diberitahu bahwa konsumen ada kalanya membeli bukan hanya karena pertimbangan teknis, tetapi juga pertimbangan estetika / rasa keindahan. Dalam hal ini, saya merasa tidak cocok dengan warna-warna kran air yang terlalu “menyala” seperti itu).

----------

Mengajak anak untuk mengetahui secara teknis apa yang menyebabkan masalah seperti ini akan bermanfaat untuk membiasakan anak selalu mencari tahu penyebab suatu masalah secara detail / teknis sehingga nanti di saat dewasa kelak ----- ketika dia sudah bekerja sebagai orang dewasa  ----- kebiasaan ini terus dilakukan; dan bukan sekedar menjadi orang yang asal tahu beres saja.

----------

Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak dengan memberi teladan bahwa kita sebagai orang tua bukan hanya "asal tahu beres" dan bukan hanya tahu konsep / teori saja,  tetapi juga mempelajari dan melakukan hal-hal detail /  secara teknis.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Sarjana di bidang Ilmu Sosial. Magister Manajemen di bidang Marketing, Praktisi Psikologi Industri, dan Praktisi Perbankan.