Kamis, 12 Juli 2012

BERNOSTALGIA SAMBIL MENEMANI ANAK MENGENAL MASA LALU KOTA TERCINTA

Gambar 1. Seorang nenek bersama anak dan cucunya (3 generasi) makan "pisang plenet" bersama di suatu malam, di kawasan Jalan Pemuda Semarang, sebelum jalan-jalan melihat-lihat "Dug Der" di Kawasan Kauman Semarang. ("Dug Der" adalah pasar tradisional musiman yang ada di Semarang sebelum Bulan Puasa Ramadhan. Di pasar tradisional ini dijual berbagai macam mainan anak-anak).

Menemani anak untuk mengenal masa lalu / sejarah kota tempat tinggal dapat dilakukan dengan cara yang mudah, menyenangkan, dan sekaligus sambil bernostalgia menikmati makanan khas tempo dulu dan berbagai mainan serta suasana "tempo dulu" yang (sebagian) masih bisa hadir dalam "Dug Der" di Kota Semarang.

Gambar-gambar di bawah ini diambil sambil jalan-jalan di suatu malam di bulan Juli 2012, bersama seorang nenek yang disertai dengan anak dan cucunya. Jalan-jalan bernostalgia "3 Generasi".

Dengan kegiatan seperti ini, anak akan bisa "terbantu" memahami masa lalu ayah / ibu dan kakek / neneknya, sehingga "obrolan" bisa nyambung.



Gambar 2. Salah satu penjual makanan khas Semarang : "Pisang Plenet" di Jalan Pemuda Semarang, tepatnya di sebelah Pasaraya Sri Ratu Pemuda. Makana  khas Semarang ini dijual dengan harga Rp 3.000,- per porsi (satu porsi = 2 pisang bakar + mentega + coklat)

 Gambar 3. "Pisang Plenet" sedang dibakar. Cara membuat "pisang plenet" cukup mudah : pisang utuh dibakar, kemudian "diplenet" (Bahasa Indonesia : "digencet") dengan 2 bilah papan kayu, kemudian dibakar lagi (biar hangat sebelum dihidangkan).

 Gambar 4. Mainan anak-anak yang ada di pasar tradisional musiman "Dug Der" di kawasan Kauman - Kota Semarang (dekat Jalan Pemuda Semarang)

 Gambar 5. Wajah ceria anak-anak yang baru saja selesai menikmati wahana permainan di pasar tradisional musiman "Dug Der" di Kota Semarang. Harga karcis macam-macam mainan ini rata-rata Rp 5.000,- per orang.

Gambar 6. Namanya "Tong Stand". Tapi saya dan kebanyakan orang Semarang menyebutnya "Tong Setan". Ini adalah atraksi dengan panggung terbuat dari kayu, dibuat melingkar seperti "tong raksasa" yang menjulang tinggi. Kemudian ada pengendara sepeda motor yang naik motor "melingkar-lingkar" menaiki dinding tong dari bawah ke atas, bahkan sambil melepas tangan dari setang sepeda motor dan mengambil "uang saweran" yang diacungkan penonton (penonton berdiri di puncak atas "tong raksasa" ini). Mendebarkan dan menyenangkan.

 Gambar 7. Penjual mainan "Kapal Othok-Othok" (saya dan kebanyakan orang menyebutnya begitu, karena suara mainan ini memang "othok-othok"). Kapal mainan ini terbuat dari seng, dijalankan dengan bahan bakar kapas + minyak goreng  + disulut api. Tidak seperti mainan khas "Warak Ngendhog" yang sudah tidak dijual lagi di "Dug Der" 2012 ini, "Kapal Othok-Othok" masih banyak dijual (padahal "Warak Ngendhog" adalah ciri khas "Dug Der" Semarangan tempo dulu).

 Gambar 8. Mainan "Topeng Singa" terbuat dari kertas + tali rafia. Mainan ini juga masih dijual sekarang ini, dengan disain yang masih sama dengan zaman 1970-an.

Gambar 9. Aneka mainan tradisional yang tetap abadi dijual di "Dug Der" Semarangan. Ada truk mainan dari kayu. Juga mainan alat masak-memasak dari seng, timbangan mainan dari besi, dan gamelan kecil. Beberapa mainan sudah terkenan sentuhan modernisasi : mainan "dakon" yang terbuat dari plastik warna-warni (dulu : terbuat dari kayu dan tidak di-cat).

 Gambar 10. Mainan "Jaran Kepang" (Kuda Lumping" lengkap dengan "pecut" (cambuk)-nya. Mainan ini juga masih abadi dijual di "Dug Der" Semarang 2012. Tampak juga di bagian belakang : mainan anak-anak terbuat dari tanah liat.


Gambar 11. Makanan "Arum Manis". Makanan yang terbuat dari gula dan diberi warna ini manisnya bukan main. Dan justru karena itu sangat disukai anak-anak...sejak zaman dulu (setidaknya, sejak saya masih kecil, di tahun 1970-an).

 Gambar 12. Wahana mainan anak-anak modern yang ada di "Dug Der" Semarang 2012. Ini memang bukan mainan tradisional. Tapi toh tetap menyenangkan buat anak-anak.

Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak dalam mengenal masa lalu kota dan orang tuanya. Dan menghargai hal-hal tradisional dalam kehidupan kotanya.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----o0o-----

  • Foto dan tulisan oleh Constantinus. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana bidang Ilmu Alam dan Sarjana bidang Ilmu Sosial.